Langsung ke konten utama

Info Seni TITIK "Teater"

BENTUK-BENTUK TEARER YANG HIDUP DAN BERKEMBANG DI NUSANTARA
a. Teater boneka, yaitu pertunjukan water yang tokoh-tokoh ceritanya berupa boneka yang dimainkan oleh seorang dalang. Bentuk teater boneka di antaranya Wayang Kulit, Wayang Golek, dan Wayang Cepak. Wayang Kulit dan Wayang Golek biasanya membawakan cerita Ramayana dan Mahabrata, sedangkan Wayang Cepak biasanya membawakan cerita Babad. Jenis teater boneka termasuk teater total, maksudnya jenis teater ini menyertakan berbagai cabang seni, seperti tari, karawitan, sastra, rupa, dan seni.

b. Teater oncor, yaitu suatu jenis teater daerah yang mempergunakan oncor sebagai penerangan dalam pertunjukannya. Pergelaran teater oncor biasanya dilakukan di sebuah arena (halaman rumah, balai, atau balandongan) dengan cara ngupuk (melantai/lesehan) dan penontonnya membentuk sebuah lingkaran atau tapal kuda. Nama-nama jenis teater oncor, di antaranya Topeng Cirebon, Topeng Banjet, Topeng Ubrug, Topeng Cisalak, dan Longser.

c. Teater catur, yaitu jenis water yang mengutamakan catur (dialog) secara auditif atau tanpa visualdalam arti tidak memunculkan tokoh-tokoh cerita secara visual Penyajiannya dilakukan dengan cara disiarkan melalui siaran radio atau melalui rekaman kaset. Watak, karakter, dan figur tokoh cerita biasanya ada dalam imajinasi para pendengar. Jenis teater ini banyak digemari oleh berbagai kalangan baik tua maupun muda. Jenis teater catur, di antaranya Pantun, Macapat, Wayang Catur, dan Dongeng. Tahun 1970-an seorang dalang yang bernama Djamar Media dari Cianjur, Jawa Barat beralih profesi menjadi pendongeng. Duriat Kabawa Paeb merupakan salah satu judul cerita yang sangat populer pada saat itu. Tahun 1980-an format tersebut diteruskan oleh Uwa Kepoh yang terkenal dengan dongeng-dongengnya. Nama lain yang muncul sebagai pendongeng, yaitu Abah Kabayan.

d. Teater madya, yaitu bentuk garapan tearer yang hidup dan marak di daerah Sunda sekitar tahun 1950-1970-an.Contoh tearer madya, di antaranva sandiwara atau masres (di Cirebon dan Indramayu), Tonil, dan Dul Muluk. Teater ini merupakan perpaduan antara teater tradisional Sunda dengan teater realisme Barat. Salah satu cirinya, yaitu adanya dekorasi panggung serta setting panggung untuk kebutuhan adegan atau babak dalam cerita yang disajikan. Ciri lainnya, pertunjukan teater madya sudah menggunakan ruangan tertutup serta panggung proscenium baik dibuat secara permanen maupun sementara. Proses garapan dalam teater madya sudah memberdayakan peran pimpinan yang biasanya merangkap sutradara. Namun, dalam pelaksanaannya peran sutradara tidak seperti dalam teater Barat. sutradara dalam tearer madya hanya meng-casting calon pemain serta menyampaikan ringkasan cerita. Adapun garapan cerita secara terperinci diserahkan kepada aktor dan aktrisnya. Teknik dan montase sebagai trik-trik dalam permainan dan tata cahaya telah dilakukan dalam teater madya walaupun menggunakan peralatan yang sederhana. Teater madya mencapai puncak kejayaanya pada tahun 1950-1970-an. Hal ini terbukti dengan bermunculannya grup-grup sandiwara seperti Miss Tjitjih di Jakarta, Sri Murni di Bandung, Sinar Pusaka Sunda di Subang, serta grup-grup sandiwara asal Cirebon dan Indramayu.

e.Teater modern, yaitu sebuah bentuk water yang berasal dari Barat. Bentuk teater ini disebut juga teater konvensional karena dilihat dari teknis penggarapannva teater modern menggunakan kaidah-kaidah dramaturgi. Ciri-cirinya, antara lain adanya sutradara yang sangat penting dan manajemen dalam proses penggarapan pementasan. Bentuk teater ini hidup di kola-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Para pemainnya berasal dari kalangan mahasiswa yang bergabung dalam sebuah kelompok baik profesional maupun amatir (di kampus).

f. Teater Teatronik merupakan sebuah istilah dari bentukan kata water dan elektronik. Teatronik, yaitu bentuk teater yang cara penyajiannya tidak di panggung pertunjukan, tetapi di layar kaca (relevisi). Bentuk teater ini mulai disosialisasikan sekitar tahun 1990-an oleh beberapa orang dramawan yang ada di kota-kota besar di pulau Jawa.

Pustaka

Seni dan Budaya Oleh Harry Sulastianto, dkk.

by. Taho

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pointilis

Pointilis merupakan teknik melukis dengan menggabungkan titik-titik kecil menjadi sebuah karya lukisan yang menarik. dalam melakukan pointilis dapat digunakan berbagai alat seperti spidol, pensil warna maupun cat.
       Di dalam seni rupa UKMS TITIK melukis dengan teknik pointilis sedah pernah dilakukan dan menghasilkan banyak karya dari anggota. Inilah hasil dari pointilis yang berhasil dibuat oleh anggota UKMS TITTIK...





















Tentunya keren-keren dan menarik kan karya pointilis ini. semuanya tampak berwarna dan menarik serta efek warna yang tebal membuatnya seperti 3D....

Tari Modern

             Tari modern merupakan bentuk dari seni tari yang lebih modern. penciptaan tari modern dapat dikreasikan sendiri sesuai keinginan penari tanpa terikat kebudayaan yang berkembang di masyarakat.        Termasuk dalam jenis tari non-tradisional adalah tari kreasi baru, tari modern, dan tari kontemporer. Ciri khas tari kreasi baru adalah tari tradisional yang diperbaharui. Ciri khas tari modern dan tari kontemporer adalah penemuan baru dalam hal tema, bentuk, dan penyajian tari.
        Wujud tari modern biasanya merupakan gabungan dari unsur-unsur budaya setempat dengan unsur budaya dunia. Ada pula yang sepenuhnya menampilkan unsur budaya dunia. Ciri khas tari kontemporer Indonesia adalah menyajikan tema, bentuk yang sedang terkenal, sedang menjadi sorotan saat ini. Jika tari kontemporer cirinya menyajikan tema dan bentuk yang sedang terkenal, sedang menjadi sorotan saat ini, namun tari modern belum tentu menyajikan tema dan bentuk yang sedang terkenal saat ini.


Pada saat Open …

Aplikasi Angkatan ANggada

Acara yang penuh dengan kebersamaan di Aplikasi Angkatan Anggada UKMS TITIK 2014
Mulai dari mendekor hingga penampilan